Tim Mission Trip STTII Yogyakarta Layani Dua Wilayah di Sulawesi Utara dengan tema “Post Ressurection: What Jesus Do In You?” Act. 1:1-3
31 Dec 2025
Pengabdian Kepada Masyarakat

SULAWESI UTARA – Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta kembali wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM). Tim Mission Trip kali ini bergerak menuju Provinsi Sulawesi Utara dengan mengangkat tema "Post Resurrection: What Jesus Do In You?" (Kisah Para Rasul 1:1-3). Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 26 April hingga 11 Mei 2025 ini menyasar dua lokasi utama, yaitu Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) di Pulau Tagulandang dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Tim dan Lokasi Pelayanan 

Tim yang diketuai oleh mahasiswa Febriani Fransiska Dalemeng ini didampingi langsung oleh dosen pendamping Dr. Farel Yosua Sualang, M.Th. Tim beranggotakan tujuh orang mahasiswa yang memiliki kompetensi di bidang musik, khotbah, dan pelayanan anak. Adapun mitra pelayanan gereja lokal meliputi KGPM Betlehem Humbia, KGPM Tiberias Perjuangan, dan GPdI Filadelfia Posilagon.

Fokus Pelayanan: Menjawab Tantangan Zaman 

Berdasarkan analisis situasi di lapangan, tim menemukan tantangan berupa minimnya pemahaman kekristenan yang mendalam, masih adanya praktik okultisme, serta dampak negatif digitalisasi pada pergaulan anak muda. Merespons hal tersebut, Tim Mission Trip STTII Yogyakarta menggelar berbagai kegiatan strategis, antara lain:

  • Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR): Menyasar pemuda dan remaja untuk memperkuat iman di tengah arus modernisasi.
  • Seminar Edukasi: Mengadakan seminar bertajuk "Grow Together in a Purpose and Community" dan seminar tentang hubungan Tuhan dengan manusia.
  • Pelayanan Anak: Kegiatan "Jumat Ceria" dan Ibadah Paskah Anak yang melibatkan kreativitas seperti menggambar dan kerajinan tangan.
  • Pemuridan Keluarga: Melakukan kunjungan ke rumah-rumah jemaat untuk konseling dan penguatan keluarga.

Diharapkan melalui pelayanan intensif selama kurang lebih dua minggu ini, jemaat setempat—khususnya generasi muda—dapat semakin memahami nilai-nilai Alkitabiah dan terlepas dari praktik-praktik yang bertentangan dengan iman Kristen.